Bukan Sekadar Bermain di Dunia Maya, KKN 190 SAVENTRA UIN Jakarta Ajak Siswa SDN 02 Sadeng Kenali Risiko dan Bahaya serta Belajar Aman dan Berdaya di Dunia Digital

    25 Agustus 2026
    5 Menit Baca
    Bukan Sekadar Bermain di Dunia Maya, KKN 190 SAVENTRA UIN Jakarta Ajak Siswa SDN 02 Sadeng Kenali Risiko dan Bahaya serta Belajar Aman dan Berdaya di Dunia Digital

    Bogor, Berita PPM Online — Dunia digital sudah menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Mereka bermain game online, menggunakan aplikasi perpesanan, mencari informasi, hingga berinteraksi dengan teman melalui internet. Teknologi membuka banyak kesempatan bagi anak untuk belajar, bermain, berkreasi, dan terhubung dengan dunia yang lebih luas. Namun, di balik segudang manfaat tersebut, terdapat pula risiko dan bahaya yang kerap luput dari perhatian.

     

    Di sinilah pentingnya membangun kesadaran sejak dini. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga perlu dibekali kemampuan untuk mengenali risiko, melindungi diri, mengambil keputusan yang tepat, serta mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi yang tidak aman di ruang digital. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan KKN 190 SAVENTRA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menghadirkan program SAVENTRA Literasi Digital.

     

    Program tersebut kembali hadir di SDN 02 Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, pada Jumat (14/8/2026). Kegiatan ini menjadi pertemuan terakhir dari rangkaian SAVENTRA Literasi Digital dengan penerima manfaat sebanyak 50 siswa yang diposisikan sebagai children leader literasi digital di lingkungan sekolah.

     

    Pemilihan 50 siswa bukan tanpa alasan. Mereka diharapkan tidak berhenti sebagai penerima materi, tetapi dapat menjadi penggerak yang membagikan kembali pengetahuan kepada teman-temannya. Dengan pendekatan peer learning, pengetahuan mengenai keamanan, etika, dan penggunaan teknologi yang positif diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan KKN selesai, tetapi terus bergerak dari satu anak kepada anak lainnya.

     

    Harapannya sederhana, tetapi penting: satu anak yang belajar dapat menjadi awal bagi anak lain untuk ikut belajar. Dengan cara tersebut, literasi digital tidak hanya berlangsung dalam ruang kelas, tetapi dapat tumbuh melalui percakapan, saling mengingatkan, dan pengalaman sehari-hari antarsiswa.

     

    Urgensi penguatan literasi juga dirasakan langsung oleh pihak sekolah. Kepala SDN 02 Sadeng, Ani Rahmiyati, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa literasi masih menjadi salah satu aspek yang perlu terus diperkuat di lingkungan sekolah.

     

    “Indeks literasi di sekolah kita juga yang merah rapornya itu di literasinya. Jadi cocok dengan adanya kakak-kakak KKN SAVENTRA ini untuk mendukung perkembangan literasi di sekolah. Literasi itu luas dan banyak jenisnya, salah satunya literasi digital yang urgent hari ini,” ujar Ani.

     

    Pada pertemuan terakhir ini, pembelajaran kembali dikemas secara seru, interaktif, dan partisipatif. Dalam waktu sekitar 120 menit, siswa diajak memahami dunia digital melalui materi yang dekat dengan kehidupan mereka, mulai dari mengenali manfaat game online dan teknologi hingga memahami berbagai risiko yang dapat muncul di ruang digital.

     

    Pembelajaran tidak ditempatkan sebagai ceramah satu arah. Siswa diajak untuk aktif merespons, berdiskusi, mengikuti ice breaking, serta menghubungkan materi dengan pengalaman mereka sehari-hari. Pendekatan ini dipilih agar pembelajaran terasa menyenangkan sekaligus menciptakan pengalaman belajar dengan meaningful participation, sehingga anak-anak tidak hanya mendengar materi, tetapi turut terlibat dalam proses memahami dan menyampaikan kembali pesan yang mereka dapatkan.

     

    Siswa dikenalkan dengan berbagai risiko dan bahaya di ruang digital seperti cyberbullying, hate speech, online grooming, hingga eksploitasi seksual anak di ranah daring yang dapat terjadi melalui berbagai celah, termasuk game online maupun aplikasi perpesanan. Mereka juga diajak memahami pentingnya menjaga keamanan akun, membuat kata sandi yang kuat, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.

     

    Pesan mengenai keamanan digital kemudian disederhanakan melalui konsep CABE—Cakap, Aman, Budaya, dan Etika sebagai panduan dalam menggunakan ruang digital secara lebih bertanggung jawab. Siswa juga dikenalkan dengan prinsip TOPCER—Tolak, Laporkan, Ceritakan, sebagai langkah yang dapat dilakukan ketika melihat, mendengar, atau mengalami tindakan kekerasan.

     

    Materi SAVENTRA Literasi Digital terinspirasi dari materi edukasi ECPAT Indonesia yang kemudian disesuaikan dan direlevansikan oleh tim SAVENTRA dengan konteks, kebutuhan, serta keseharian anak-anak di Desa Sadeng. Penyesuaian tersebut dilakukan agar pembahasan mengenai perlindungan anak di ruang digital dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana, dekat dengan pengalaman peserta didik, dan mudah dipahami.

     

    Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui kegiatan membuat mading literasi digital secara berkelompok. Di sini, anak-anak tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi diberikan ruang untuk mengolah kembali apa yang telah mereka pelajari, menyampaikan pesan dengan bahasa mereka sendiri, menuangkan kreativitas, dan bekerja sama menghasilkan sebuah karya.

     

    Mading tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai hasil karya kegiatan. Ia dapat menjadi media belajar yang terus hidup di lingkungan sekolah. Pesan yang tertulis di dalamnya dapat dibaca oleh siswa lain, dibicarakan kembali, bahkan diteruskan kepada teman-teman mereka. Dengan demikian, satu karya dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya percakapan baru tentang keamanan dan kecakapan digital.

     

    Di titik inilah konsep children leader dan peer learning menjadi bagian penting dari SAVENTRA Literasi Digital. Program tidak semata-mata berorientasi pada berapa banyak anak yang menerima materi, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut dapat diteruskan dan memberi manfaat kepada lingkungan di sekitar mereka.

     

    Sebanyak 50 siswa yang menjadi penerima manfaat diharapkan mampu menjadi titik awal untuk menyebarkan pengetahuan mengenai penggunaan teknologi yang aman, bijak, dan bertanggung jawab. Mereka tidak harus menjadi “guru” bagi teman-temannya dalam arti formal. Cukup dengan berani mengingatkan ketika ada yang melakukan hal berisiko, berbagi pengetahuan yang telah dipelajari, atau mengajak teman untuk lebih berhati-hati ketika berada di ruang digital.

     

    Sebab, menjadi berdaya di dunia digital bukan berarti anak harus mengetahui semuanya. Menjadi berdaya berarti mereka memiliki keberanian untuk bertanya ketika tidak tahu, berkata tidak ketika merasa tidak aman, meminta bantuan ketika menghadapi masalah, dan saling menjaga ketika melihat temannya berada dalam risiko.

     

    Setelah melalui rangkaian pertemuan, SAVENTRA Literasi Digital akhirnya ditutup dengan satu harapan: pengetahuan yang diberikan tidak ikut berakhir ketika kegiatan KKN selesai. Ia dapat terus bergerak melalui percakapan di antara teman, karya yang terpajang di sekolah, dan keberanian anak untuk saling mengingatkan ketika berada di ruang digital.

     

    Pada akhirnya, literasi digital bukan hanya tentang mengetahui cara menggunakan teknologi. Lebih dari itu, literasi digital adalah tentang bagaimana anak mampu hadir di ruang digital dengan aman, sadar, cakap, dan berdaya—mengenali manfaatnya, memahami risiko dan bahayanya, melindungi dirinya, serta ikut menjaga sesamanya. 

     

    Karena ketika satu anak belajar untuk lebih aman di dunia digital, pengetahuan itu tidak harus berhenti pada dirinya sendiri. Ia bisa menjadi pesan yang diteruskan, menjadi keberanian yang ditularkan, dan menjadi langkah kecil untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak lainnya.

     

    Penulis: Erizal dan Putri Sintya Dewi
    Editor: Vanessa Nindi Utama