Bogor, BERITA PPM Online — Sampah organik rumah tangga yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang ternyata dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang berguna. Melalui kegiatan Sosialisasi dan Praktik Lubang Resapan Biopori, mahasiswa KKN Satyanala 162 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengajak masyarakat Desa Ciderum untuk mengenal dan mempraktikkan salah satu cara sederhana dalam mengelola sampah organik.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu (22/8/2026) pukul 09.00–11.30 WIB, bertempat di RT 01, RW 03, Kampung Batu Kembar, Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan diikuti oleh 16 orang ibu-ibu yang dikoordinasikan oleh Ibu Jamilah selaku Koordinator Posyandu Desa Ciderum.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi dokumentasi. Para peserta diajak untuk berfoto menggunakan frame khusus bertuliskan “Sosialisasi dan Praktik Biopori” yang telah disiapkan oleh mahasiswa KKN Satyanala 162. Setelah sesi foto, peserta mendapatkan pipa PVC untuk biopori serta poster materi yang memuat informasi mengenai pemanfaatan biopori dalam pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos.
Setelah peserta menerima perlengkapan dan materi, kegiatan secara resmi dibuka oleh Diva Nazva Savitri selaku MC sekaligus pemantik kegiatan. Pada awal kegiatan, Diva mengajak peserta berinteraksi dan mengarahkan perhatian pada persoalan sampah organik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemantik tersebut menjadi jembatan sebelum peserta masuk ke pembahasan mengenai biopori dan cara memanfaatkannya untuk mengelola sampah organik.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi selama kurang lebih 30 menit oleh Zahra Salbiyah Aniqah Syach selaku PIC sekaligus pemateri kegiatan Biopori KKN Satyanala 162 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam pemaparannya, peserta terlebih dahulu diajak mengenali sampah organik serta berbagai contoh yang sering ditemukan di lingkungan rumah. Peserta kemudian diperkenalkan dengan lubang resapan biopori, mulai dari pengertian, manfaat, hingga perannya dalam membantu pengelolaan sampah organik dan meningkatkan resapan air ke dalam tanah.
Materi juga membahas jenis sampah yang dapat dan tidak dapat dimasukkan ke dalam lubang biopori. Peserta diberikan pemahaman bahwa sampah organik seperti sisa sayuran, daun, dan kulit buah dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang akan mengalami proses penguraian, sedangkan sampah yang tidak sesuai untuk proses tersebut sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam lubang.
Selain itu, peserta diberikan penjelasan mengenai cara membuat dan merawat lubang biopori. Lubang dibuat secara vertikal menggunakan bor biopori dengan kedalaman sekitar 80–100 sentimeter, kemudian dapat dipasangi pipa PVC dengan diameter sekitar 10–15 sentimeter. Peserta juga dijelaskan mengenai cara memasukkan sampah organik, menutup lubang, serta melakukan perawatan dengan menambahkan sampah organik secara berkala.
Setelah memperoleh penjelasan, peserta diajak berpindah menuju lahan untuk mengikuti praktik secara langsung. Di lokasi tersebut telah tersedia dua lubang biopori yang sudah dipasangi pipa PVC. Sementara itu, satu titik lainnya sengaja belum dibuat untuk digunakan sebagai contoh dalam demonstrasi.
Peserta kemudian diperlihatkan tahapan pembuatan lubang biopori dari awal. Demonstrasi dimulai dengan melubangi tanah menggunakan bor biopori hingga mencapai kedalaman sekitar 80–100 sentimeter. Setelah lubang terbentuk, peserta diperlihatkan cara memasang pipa PVC ke dalam lubang tersebut.
Praktik kemudian dilanjutkan dengan mengenalkan berbagai sampah organik yang telah disiapkan. Peserta diperlihatkan cara memasukkan sampah organik ke dalam lubang biopori dan menutupnya kembali. Dengan melihat proses secara langsung, peserta dapat memahami bahwa pembuatan biopori tidak berhenti pada pembuatan lubang, tetapi juga membutuhkan pengisian dan perawatan agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Hal yang menarik perhatian peserta muncul ketika mahasiswa KKN menunjukkan kompos yang telah jadi dari proses penguraian bahan organik. Ibu-ibu peserta diberikan kesempatan untuk melihat dan memegang kompos tersebut secara langsung. Momen ini memperlihatkan secara nyata bahwa bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat mengalami proses penguraian dan menghasilkan material yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman.
Melalui rangkaian tersebut, peserta diperkenalkan pada sebuah siklus sederhana: sampah organik dari rumah tidak langsung dibuang, tetapi dimasukkan ke dalam biopori, dibiarkan mengalami proses penguraian, kemudian hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai kompos. Pemahaman tersebut menjadi salah satu pesan utama yang ingin disampaikan melalui kegiatan ini.
Kegiatan juga diakhiri dengan ajakan kepada masyarakat untuk mulai membuat dan memanfaatkan lubang biopori di lingkungan rumah masing-masing sesuai dengan kondisi lahan yang tersedia. Dengan penerapan yang sederhana dan perawatan yang dilakukan secara berkala, biopori diharapkan dapat menjadi salah satu kebiasaan baru dalam mengelola sampah organik sekaligus menjaga lingkungan.
Rangkaian Sosialisasi dan Praktik Lubang Resapan Biopori kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama peserta dan mahasiswa KKN Satyanala 162. Melalui kegiatan ini, KKN Satyanala 162 berharap pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga sampah organik tidak hanya berakhir sebagai limbah, tetapi dapat kembali memberikan manfaat bagi lingkungan.
Penulis: Zahra Salbiyah Aniqah Syach
Editor: Vanessa Nindi Utama