KKN Kelompok 125 Navantara UIN Jakarta Hidupkan Kembali Permainan Tradisional di Pondok Petir

    25 Agustus 2026
    3 Menit Baca
    KKN Kelompok 125 Navantara UIN Jakarta Hidupkan Kembali Permainan Tradisional di Pondok Petir

    Depok, Berita PPM Online – Di tengah semakin dekatnya kehidupan anak-anak dengan gawai dan permainan digital, KKN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Kelompok 125 Navantara menghidupkan kembali permainan tradisional melalui program Literasi Budaya bertajuk “Bermain Bersama, Melestarikan Budaya Indonesia”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di RT 05/RW 05, Kelurahan Pondok Petir, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, pada Kamis (6/8/2026).

     

    Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30–17.30 WIB tersebut diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar di lingkungan setempat. Program ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal kembali berbagai permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan dalam keseharian anak-anak.

     

    Sejumlah permainan diperkenalkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari lompat karet, congklak, bekel, bakiak, egrang batok, hingga gangsing bambu. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan permainan ular naga panjang yang dimainkan secara bersama-sama.

     

    Sebelum permainan dimulai, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok kemudian berpindah dari satu pos permainan ke pos lainnya dengan didampingi mahasiswa KKN. Pada setiap pos, mahasiswa tidak hanya menjelaskan aturan permainan, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

     

    Melalui permainan tersebut, anak-anak diajak memahami pentingnya kerja sama, sportivitas, komunikasi, disiplin, dan tanggung jawab. Bagi sebagian peserta, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman baru karena beberapa permainan yang diperkenalkan sebelumnya hanya mereka dengar dari cerita orang tua atau lingkungan sekitar.

     

    Penanggung jawab program Literasi Budaya, Fikri Gumilang, mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap semakin tergerusnya permainan tradisional akibat perkembangan media digital.

     

    “Saya prihatin melihat permainan-permainan tradisional semakin tergerus oleh media digital, game online, dan media sosial. Karena itu, saya memilih kegiatan ini agar anak-anak di lingkungan RT 05 bisa mengenal kembali permainan tradisional dan mendapatkan dampak yang positif dari kegiatan ini. Harapannya, mereka bisa terus memainkan dan melestarikan permainan tersebut,” ujar Fikri.

     

    Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Anak-anak saling menyemangati ketika memainkan bakiak, berusaha menjaga keseimbangan saat menggunakan egrang batok, hingga menunggu giliran ketika memainkan congklak dan bekel. Suasana kegiatan dipenuhi tawa dan keceriaan anak-anak yang menikmati permainan bersama teman-temannya.

     

    Respons positif juga disampaikan oleh masyarakat setempat. Ketua RT 05 mengapresiasi kegiatan yang memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak di lingkungannya.

     

    “Saya sangat senang dengan adanya program literasi budaya yang mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak di lingkungan RT 05. Harapannya, permainan tradisional ini bisa tetap ada dan tidak hilang dari permainan anak-anak di lingkungan RT kami,” ujarnya.

     

    Program Literasi Budaya tersebut berangkat dari perhatian mahasiswa KKN Kelompok 125 Navantara terhadap semakin terbatasnya ruang bagi permainan tradisional di tengah kehidupan anak-anak yang semakin dekat dengan teknologi digital. Berbeda dengan permainan berbasis gawai, permainan tradisional mendorong anak untuk bergerak, berkomunikasi, mengikuti aturan, serta berinteraksi secara langsung dengan orang lain.

     

    Melalui kegiatan ini, KKN Kelompok 125 Navantara UIN Jakarta berharap permainan tradisional tidak hanya menjadi bagian dari cerita generasi sebelumnya, tetapi tetap dimainkan, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

     

    Bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut, pelestarian budaya hadir melalui pengalaman sederhana, seperti berkumpul bersama teman, bergerak, tertawa, dan memainkan permainan yang mulai jarang mereka temui. Dari ruang bermain di lingkungan masyarakat, permainan tradisional kembali mendapatkan tempat untuk terus dikenal dan dilestarikan.

     

    Penulis: Fikri Gumilang
    Editor: Vanessa Nindi Utama