Kebumen, BERITA PPM Online — Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Kelompok 113 yang melibatkan mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mendorong digitalisasi usaha masyarakat Desa Pringtutul, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen, melalui sosialisasi dan pendampingan pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Sebanyak 15 mahasiswa KKN dibagi menjadi tiga kelompok untuk menjangkau pelaku usaha di tiga RW Desa Pringtutul. Sosialisasi dilakukan secara door to door sejak 28 Juli 2026 dengan mendatangi berbagai jenis usaha, mulai dari warung sembako, toko alat elektronik, bengkel dan cucian motor, hingga usaha kuliner seperti mi ayam, bakso, dan seblak.
Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengenalan QRIS sebagai metode pembayaran digital, tetapi juga memberikan pendampingan langsung kepada pelaku UMKM yang tertarik menggunakannya. Mahasiswa membantu proses pendaftaran hingga memberikan penjelasan mengenai cara penggunaan QRIS dalam transaksi sehari-hari.
Di RW 01, kelompok mahasiswa menyosialisasikan QRIS kepada salah satu pemilik warung kopi. Penanggung Jawab (PJ) kelompok, Nabila Hijriyatul Laeli, menjelaskan bahwa warung kopi menjadi salah satu jenis usaha yang potensial menggunakan pembayaran digital karena dapat memberikan pilihan transaksi yang lebih praktis bagi pelanggan.
Sementara itu, di RW 02, mahasiswa mendampingi pemilik toko alat elektronik dalam proses pembuatan QRIS. Mela Sukma Hildayanti menjelaskan bahwa QRIS dapat menjadi alternatif pembayaran bagi pelanggan yang tidak membawa uang tunai dalam jumlah yang cukup.
Pendampingan serupa dilakukan di RW 03 dengan menyasar usaha cucian motor. PJ kelompok, Aprilia Dwi Mulyanti, mengatakan bahwa sosialisasi secara langsung diperlukan agar pelaku usaha dapat lebih mudah memahami penggunaan teknologi pembayaran digital.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya menawarkan pembuatan QRIS, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai cara penggunaannya. Pendampingan tersebut diberikan terutama kepada pelaku usaha yang masih belum terbiasa menggunakan teknologi digital.
Respons pelaku UMKM terhadap program tersebut beragam. Sebagian pelaku usaha menerima dan bersedia membuat QRIS karena menilai metode pembayaran digital dapat memberikan kemudahan bagi pelanggan. Namun, sebagian lainnya masih mempertimbangkan penggunaannya karena mayoritas transaksi di tempat usaha mereka masih dilakukan secara tunai dan keterbatasan pemahaman dalam menggunakan teknologi.
Menghadapi perbedaan tersebut, mahasiswa tidak memaksakan pelaku usaha untuk menggunakan QRIS. Mahasiswa tetap memberikan informasi mengenai manfaat dan cara penggunaannya agar pelaku UMKM dapat mempertimbangkan penerapan pembayaran digital sesuai dengan kondisi dan kebutuhan usaha masing-masing.
Bagi pelaku usaha yang bersedia, mahasiswa membantu proses pengajuan QRIS hingga selesai. Setelah pengajuan, pelaku usaha perlu menunggu sekitar satu hingga dua hari sebelum barcode QRIS dapat diunduh dan digunakan.
Mahasiswa kemudian melakukan tindak lanjut kepada pelaku UMKM untuk membantu mengunduh barcode QRIS yang telah berhasil dibuat. Sebagai bagian dari program pendampingan, KKN Kolaboratif Kelompok 113 juga memberikan fasilitas pencetakan barcode QRIS secara gratis. Barcode yang telah selesai dicetak dibagikan kepada pelaku UMKM pada 14 Agustus 2026 untuk dipasang di tempat usaha masing-masing.
Melalui program tersebut, KKN Kolaboratif Kelompok 113 UIN berharap semakin banyak pelaku UMKM di Desa Pringtutul memahami manfaat pembayaran digital dan mampu menyesuaikan pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan usaha mereka.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung tema KKN UIN Saizu Angkatan ke-58, yaitu “Saizu Memberdaya: Menguatkan Umat, Menghijaukan Desa, Menggerakkan Ekonomi Masyarakat,” khususnya dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital.
Penulis: Sabrina Syamsyiatul Fuadah, Aprilia Dwi Mulyanti
Editor: Annisa Khafi Rabbani