Bogor, Berita PPM Online – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nabastala 185 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar sosialisasi anti-bullying bertajuk “Stop Bullying, Start Caring: Kenali Diri, Kelola Emosi, Bangun Empati” di SDN Putat Nutug 04, Kampung Ketapang, Desa Putat Nutug, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jumat (14/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan metode edukasi interaktif melalui demonstrasi gunung api meletus untuk membantu siswa memahami pentingnya mengenali dan mengelola emosi sebagai bagian dari upaya mencegah perundungan.
Bullying atau perundungan masih menjadi salah satu persoalan serius di lingkungan pendidikan. Selain kekerasan seksual dan intoleransi, perundungan termasuk dalam tiga dosa besar pendidikan yang memerlukan perhatian berbagai pihak. Dampak bullying tidak hanya dapat dirasakan secara fisik, tetapi juga dapat meninggalkan luka psikologis yang berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Berdasarkan data gabungan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang disampaikan dalam materi kegiatan, bullying fisik menjadi bentuk perundungan yang paling banyak terjadi di lingkungan sekolah, yakni sebesar 55,5 persen, disusul bullying verbal atau psikis sebesar 29,3 persen. Siswa sekolah dasar juga menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami perundungan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya edukasi mengenai pencegahan bullying sejak usia dini.
Berangkat dari kondisi tersebut, KKN Nabastala 185 UIN Jakarta merancang sosialisasi dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi secara lisan. Mahasiswa menggunakan demonstrasi reaksi kimia berbentuk gunung api meletus sebagai media pembelajaran untuk membantu siswa memahami hubungan antara emosi, pengendalian diri, dan perilaku terhadap orang lain.
Dalam kegiatan tersebut, gunung api digunakan sebagai simbol emosi manusia. Layaknya gunung yang menyimpan tekanan hingga akhirnya meletus, emosi yang terus dipendam tanpa dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi kemarahan dan perilaku negatif. Melalui analogi tersebut, siswa diajak mengenali perasaan, mengendalikan emosi, serta memahami pentingnya membangun empati terhadap teman.
Kegiatan dimulai pada pukul 07.00 WIB dan dibuka oleh Mima dan Dhea selaku pembawa acara. Selanjutnya, sesi pengenalan mengenai bullying disampaikan oleh Riska dan Qun. Para siswa diperkenalkan dengan berbagai bentuk perundungan, dampaknya terhadap korban, serta tindakan yang dapat dilakukan ketika mereka mengalami atau menyaksikan bullying di lingkungan sekolah.
Suasana kegiatan semakin interaktif ketika mahasiswa menghadirkan drama singkat bertema bullying yang diperankan oleh Zidan, Iqram, Echa, dan Yunita. Drama tersebut menggambarkan situasi perundungan yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mengajarkan keberanian kepada siswa untuk tidak menjadi pelaku maupun sekadar menjadi penonton ketika melihat tindakan bullying.
Memasuki sesi utama, Irgi dan Echa memimpin demonstrasi gunung api meletus yang dikaitkan dengan materi mengenai pengelolaan emosi. Para siswa kemudian diajak mengikuti praktik sederhana berupa reaksi kimia menggunakan balon. Melalui kegiatan tersebut, siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung mengenai bagaimana sesuatu yang mengalami tekanan dapat menghasilkan reaksi, sekaligus menjadi gambaran mengenai pentingnya mengelola emosi sebelum berkembang menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Pendekatan belajar sambil bermain membuat materi mengenai bullying dan pengelolaan emosi menjadi lebih mudah dipahami. Para siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat langsung dalam drama, demonstrasi, serta praktik sederhana yang diberikan mahasiswa KKN.
Pihak SDN Putat Nutug 04 turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Edukasi yang diberikan mahasiswa dinilai membantu siswa mengenali bentuk-bentuk bullying, memahami dampaknya terhadap korban, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dan menyayangi sesama teman. Sekolah juga berharap kegiatan edukasi serupa dapat terus dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, ramah anak, dan bebas dari perundungan.
Melalui kegiatan ini, KKN Nabastala 185 UIN Jakarta berharap siswa tidak hanya memahami bahaya bullying, tetapi juga mampu mengenali emosi diri, mengendalikan perasaan, dan membangun empati dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi sejak tingkat sekolah dasar diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam membangun budaya sekolah yang positif sehingga setiap anak memiliki ruang yang aman untuk belajar, tumbuh, dan berkembang.
Penulis: Muhammad Jalaludin Rumi Hamid
Editor: Vanessa Nindi Utama