Lewat Pohon Cerita, KKN 270 Sangha Abhipraya Ajak Siswa SDN Mekar Jaya Berani Bicara soal Bullying

    25 Agustus 2026
    3 Menit Baca
    Lewat Pohon Cerita, KKN 270 Sangha Abhipraya Ajak Siswa SDN Mekar Jaya Berani Bicara soal Bullying

    Tangerang, BERITA PPM Online — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 270 Sangha Abhipraya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar sosialisasi anti-bullying di SDN Mekar Jaya, Kecamatan Panongan, pada Rabu (19/8/2026). Mengusung tema “Stop Bullying, Mulai dari Diri Sendiri, Wujudkan Sekolah Ramah Anak”, kegiatan tersebut diikuti 81 siswa kelas 5 dan 6 sebagai upaya membangun kesadaran tentang bahaya bullying sejak dini.

     

    Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–10.30 WIB di ruang kelas 3 tersebut menjadi bagian dari program kerja KKN di bidang sosial dan pendidikan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pengertian, bentuk, dampak, serta cara mencegah dan menghadapi bullying di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

     

    Sosialisasi diawali dengan ice breaking yang dipandu mahasiswa KKN untuk membangun suasana interaktif bersama siswa. Materi kemudian disampaikan oleh Giga Pratama Putra dan Aidil Firman Majid, mahasiswa KKN Kelompok 270 Sangha Abhipraya.

     

    Giga menjelaskan berbagai bentuk bullying, mulai dari tindakan fisik, verbal, hingga sosial. Siswa juga diajak memahami dampak bullying terhadap perkembangan peserta didik serta membedakan antara candaan yang sehat dan perilaku yang dapat dikategorikan sebagai bullying.

     

    Dalam penyampaiannya, mahasiswa juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Siswa didorong untuk membangun kebiasaan saling menghargai, tidak mengejek atau mengucilkan teman, serta berani melaporkan tindakan bullying kepada guru maupun orang dewasa yang dipercaya.

     

    Sementara itu, Aidil Firman Majid membahas sejumlah faktor yang dapat memicu terjadinya bullying, di antaranya kurangnya empati, pengaruh lingkungan, minimnya pengawasan, serta rendahnya pemahaman mengenai dampak dari perilaku mengejek, menghina, memberikan julukan yang tidak disukai, mengucilkan, hingga melakukan kekerasan fisik.

     

    Para siswa juga diberikan pemahaman mengenai dampak bullying terhadap korban. Tindakan tersebut dapat membuat anak merasa takut, kehilangan rasa percaya diri, tidak nyaman berada di sekolah, mengalami hambatan dalam proses belajar, hingga memengaruhi perkembangan sosialnya.

     

    Giga menekankan bahwa pencegahan bullying tidak hanya menjadi tanggung jawab korban maupun guru, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah.

     

    “Pencegahan bullying sebenarnya bisa dimulai dari diri sendiri dan teman-teman di sekitar kita. Dengan saling menghargai, tidak mengejek, tidak mengucilkan, dan berani melaporkan jika melihat tindakan bullying, kita bisa bersama-sama menciptakan sekolah yang aman dan nyaman,” ujar Giga.

     

    Selain membahas upaya pencegahan, siswa juga mendapatkan penjelasan mengenai cara menghadapi bullying, baik ketika menjadi korban maupun saksi. Mereka diarahkan untuk tidak memilih diam dan segera mencari bantuan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya.

     

    Menariknya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman melalui Pohon Cerita. Dalam sesi tersebut, siswa diberi kesempatan untuk menuliskan pengalaman yang pernah mereka alami, baik sebagai korban, saksi, maupun pelaku bullying, pada sticky note yang telah disediakan mahasiswa KKN.

     

    Catatan tersebut kemudian ditempelkan pada pohon cerita yang telah dipersiapkan sebelumnya. Media ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan dan berbagi pengalaman dalam suasana yang diupayakan aman dan nyaman.

     

    Melalui Pohon Cerita, mahasiswa KKN 270 Sangha Abhipraya tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk merefleksikan pengalaman mereka. Kegiatan tersebut diharapkan membantu siswa memahami bahwa setiap perkataan dan tindakan dapat memengaruhi perasaan orang lain.

     

    KKN 270 Sangha Abhipraya berharap edukasi anti-bullying tersebut dapat mendorong terbentuknya budaya saling menghargai di lingkungan SDN Mekar Jaya. Upaya menciptakan sekolah ramah anak dinilai membutuhkan keterlibatan siswa, guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah agar lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang yang aman bagi perkembangan anak secara mental maupun sosial.

     

    Penulis: Irfan Zuhri
    Editor: Annisa Khafi Rabbani