Seminar Anti-Bullying KKN Naraveda 124 UIN Jakarta Ajak Generasi Muda Berani Melawan Perundungan

    22 Agustus 2026
    4 Menit Baca
    Seminar Anti-Bullying KKN Naraveda 124 UIN Jakarta Ajak Generasi Muda Berani Melawan Perundungan

    Depok, Berita PPM Online — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 124 Naraveda UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Anti-Bullying bersama siswa dan siswi di sekitar Kelurahan Curug, Kota Depok, pada 13 Agustus 2026. Kegiatan tersebut melibatkan Polres Metro Depok, Polsek Bojongsari, dan Kelurahan Curug sebagai bagian dari upaya memberikan edukasi mengenai pencegahan perundungan serta mendorong keberanian generasi muda untuk bersuara dan saling menjaga.

     

    Seminar tersebut menjadi ruang edukasi bagi para pelajar untuk memahami berbagai bentuk bullying, mulai dari perundungan verbal, fisik, hingga perundungan yang terjadi di lingkungan digital. Peserta juga diajak memahami bahwa bullying bukan sekadar candaan antarteman, melainkan tindakan yang dapat berdampak serius terhadap korban dan menciptakan lingkungan yang tidak aman.

     

    Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, serta komunikasi langsung dengan peserta. Moderator turut mendorong siswa agar tidak menjadi korban maupun penonton yang memilih diam ketika melihat tindakan perundungan.

     

    Dalam salah satu pesannya, moderator menyampaikan, “Tidak tunduk terdiam untuk ditindas, tapi bangkit menatap untuk melawan, karena mundur adalah sebuah pengkhianatan,” ujarnya.

     

    Pesan tersebut menjadi ajakan kepada para pelajar untuk berani mengambil sikap ketika menghadapi perundungan. Namun, keberanian yang ditekankan bukanlah membalas kekerasan dengan kekerasan, melainkan berani berbicara, mencari pertolongan, mendampingi korban, dan menggunakan jalur penyelesaian yang tepat.

     

    Ketua KKN Naraveda 124, Muhammad Hisyam Azmi, menyampaikan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya hadir untuk menjalankan program kerja, tetapi juga perlu membawa pengetahuan dan membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

     

    “Kegiatan ini bukan hanya tentang memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bullying, tetapi bagaimana kita membangun keberanian untuk saling menjaga. Kami ingin para siswa memahami bahwa ketika melihat bullying, mereka tidak boleh memilih untuk diam,” ujar Muhammad Hisyam Azmi.

     

    Dari unsur kepolisian, AKP Akhmadi, S.H. dari Polres Metro Depok turut memberikan pemahaman mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja. Kehadiran kepolisian juga memberikan perspektif bahwa tindakan kekerasan maupun perundungan memiliki konsekuensi dan tidak dapat dianggap sebagai persoalan sepele.

     

    “Anak-anak harus berani menyampaikan ketika mengalami atau melihat tindakan yang tidak semestinya. Jangan takut untuk berbicara dan jangan menyelesaikan masalah dengan kekerasan,” pesan AKP Akhmadi, S.H. kepada para peserta.

     

    Sementara itu, IPTU Mujahidin dari Polsek Bojongsari menekankan pentingnya membangun komunikasi antara pelajar, keluarga, lingkungan masyarakat, dan aparat. Menurutnya, pencegahan bullying tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak karena lingkungan sosial memiliki pengaruh terhadap perilaku anak dan remaja.

     

    “Keamanan dan kenyamanan lingkungan bukan hanya tanggung jawab kepolisian. Semua pihak harus ikut menjaga, termasuk para pelajar. Kalau ada persoalan, jangan takut untuk melapor dan mencari bantuan,” ungkap IPTU Mujahidin.

     

    Dukungan terhadap kegiatan juga disampaikan oleh Sekretaris Kelurahan Curug, Wulan. Ia menilai edukasi mengenai bullying penting diberikan kepada generasi muda karena persoalan tersebut dapat muncul di berbagai ruang, baik lingkungan sekolah maupun masyarakat.

     

    “Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena anak-anak perlu diberikan pemahaman sejak dini. Harapannya, mereka bisa saling menghargai, menjaga teman, dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semuanya,” ujar Wulan.

     

    Kolaborasi antara mahasiswa KKN, kepolisian, dan pemerintah kelurahan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Edukasi menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran, tetapi perubahan juga perlu didukung oleh lingkungan yang tidak menganggap perundungan sebagai candaan atau persoalan biasa.

     

    Melalui seminar tersebut, KKN Naraveda 124 UIN Jakarta mengajak para pelajar memahami bahwa keberanian melawan bullying tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik. Berani berkata tidak, melapor, mendampingi korban, serta menghentikan budaya diam merupakan bentuk perlawanan yang dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.

     

    Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk saling menghargai, berani menyuarakan tindakan yang tidak tepat, serta membangun kepedulian terhadap sesama. Upaya menciptakan lingkungan bebas dari perundungan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi membutuhkan kesadaran dan komitmen bersama yang terus dibangun.

     

    Penulis: Arif Siregar
    Editor: Vanessa Nindi Utama